Senin, 29 Desember 2025

Nara Sumber di Akhir Tahun

Setahun lalu, undangan dari komunitas Guru Ngeblok menutup kegiatan berbagi saat itu. Kegiatan di akhir Desember tahun ini undangan yang berbeda diterima melalui WhatsApp. Permintaan nara sumber bagi kegiatan Program Pendidikan Guru Universitas Haluoleo menjadi kegiatan berbagai dipenghujung tahun 2022. Menjelang sore  di hari Senin (26/12) panitia telah memberikan arah topik yang akan dipaparkan. Pesertanya sebanyak 26 orang yang merupakan Mahasiswa PPG dalam jabatan tahun ini.

 


Materi tentang pembelajaran berdiferensiasi menjadi bahan yang saya berikan. Bukan seorang diri, namun Pak Hakim sebagai guru di jenjang SMK ikut memberikan pengalamannya. Bukan hanya teori namun banyak praktik baik yang diungkapkan. Banyak aksi nyata dalam pembelajaran modul 2.1 tentang pembelajaran yang berpihak pada murid menjadi bahan pembicaraan. Sesi paparan hanya berlangsung 15 menit. Walaupun singkat, namun saya menyempatkan untuk memberikan materi inovasi yang telah dilakukan.

 

Bekal terasi menjadi media sekaligus cara berdeferensiasi yang telah lama dipraktekan. Bagaimana memuat program diferensiasi dalam pengambangan sekolah? Menjadi materi penutup yang dijelaskan. Pengembangan media buletin digital untuk literasi sekolah adalah temanya. Saya pun mengirimkan link sebagai bahan bacaan. Terdapat infografis tentang alur diferensiasi yang dibuat sendiri.

 

Terdapat tiga pertanyaan yang terdengar diruang virtual malam itu. Saya memberikan beberapa penekanan dalam menjawabnya. Persiapan mengajar berupa pra asesmen, rencana pembelajaran dan hal-hal lain yang perlu diketahui sebelum membuka ruang kelas menjadi penting untuk berdiferensiasi. Jenis konten, proses dan produk pun menjadi hal yang berpengaruh. Minat dan bakat siswa, kesiapan belajar serta profil belajarnya harus mampu diterjemahkan dalam menuntun keperpihakan pada murid. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bagaiaman siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

 

Keesokan harinya, saya bertemu dengan guru pamong mereka. Ucapan terimakasih dan ungkapan refleksi diperoleh. Saya pun merasa bersyukur bisa melakukan Amanah yang tidak biasa ini. Kegiatan ini menjadi webinar perdana setelah mengikuti Pendidikan Guru Peggerak Angkatan 5 Kota Kendari. Dosen pengampuhnya memberikan penjelasan bahwa, nara sumbernya diupayakan dari guru-guru penggerak.

Jumat, 26 Desember 2025

Rasya - Empat Hal Unik Dalam Praktek Genetika Dengan Menggunakan Tutup Botol Tetra Warna (Cerita Refleksi Terbaik)


Aku duduk bersama kelompokku yang hebat di kelas 9.3 SMP Negeri 17 Kendari. Kami semua siap untuk membuktikan hukum Mendel tentang pewarisan sifat melalui praktek genetika. Mendel mengajarkan bahwa sifat diwariskan melalui gen, dengan aturan seperti segregasi (pemisahan gen) dan dominansi (sifat dominan menutupi resesif). Kami menyiapkan penutup botol dengan empat warna sebagai simbol genetiknya

"Pertama, belajar melalui tutup botol berwarna."

Saat memulai, kami merasa sedikit kesulitan karena alat-alat seperti penutup botol untuk simbolnya justru kurang. Tapi ini justru jadi pelajaran inspiratif!  Seperti dalam hidup, tantangan awal membuat kita lebih kreatif.  Memahami kelemahan itu, kami bekerja sama dengan kelompok lain untuk bertukar warna tutup botol yang berlebih.

"Kedua, bermain sambil belajar"

Bermain teka-teki silang dilakukan sebelum praktik dimulai. pertanyaa dan jawabannya tentang percobaan Mendel tentang dihibrid. Walaupun kelas kacau namun seru. Kami tidak mau kalah dengan kelompok lain. Menang dan kalah itu bukan masalah, yang penting konsepnya dipahami. Ini wajib, agar permainan selanjutnya bisa dilakukan dengan baik. Bermain pasangan warna dengan kode genetik yang berbeda. Memasangkan penutup botol sesuai warga genetiknya menjadi pengalaman yang berkesan. Menghitu perbandingannya harus tepat dengan pasangan warna yang telah disepakati. Walau lelah tapi asyik. Pembuktian pun berhasil dilakukan.

"Ketiga, kami berdiskusi untuk mebuat laporanyan." 

Setelah tantangan awal, akhirnya kami bisa melanjutkan. Guru menyuruh kami mencatat setiap langkah dan hasilnya. Bukan hanya teks prosedur tetapi isian tabel pengamatannya juga penting. Persilangan tanaman induk (misalnya, kacang hijau dengan kuning) hingga pengamatan generasi F1 dan F2. Kami melihat sifat dominan seperti warna hijau muncul lebih banyak, membuktikan hukum Mendel. Mencatat ini sangat inspiratif karena membuatku sadar betapa pentingnya data. Seperti Mendel yang mencatat ribuan biji, catatan kami bisa jadi dasar penemuan baru. Ini menginspirasi aku untuk selalu teliti dalam belajar, karena genetika membantu kita memahami diri sendiri. Misalnya, kenapa kita mirip orang tua atau punya sifat unik?

"Keempat, perasaan saya senang praktek." 

Meski ada hambatan, perasaan senang akhirnya datang saat melihat hasilnya. Kami berhasil membuktikan bahwa sifat seperti warna biji diwariskan secara teratur, sesuai hukum Mendel. Ini membuatku bahagia karena genetika bukan hanya teori di buku, tapi bisa kita rasakan langsung. Praktek ini menginspirasi aku untuk bermimpi besar. Mungkin suatu hari aku jadi ahli genetika yang membantu manusia. Seperti dalam pengobatan penyakit keturunan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan penuh petualangan, dan kegembiraan datang dari ketekunan!

Selasa, 23 Desember 2025

Zahro Nur Aisyah - Menyaring Air dari Botol Plastik Bekas (Cerita Refleksi Terbaik)

 


Pagi itu, pada pukul 07.00, udara masih terasa sejuk di lingkungan sekolah. Bel tanda dimulainya pelajaran pertama telah berbunyi, dan suasana di luar kelas VIII.I sedikit berbeda dari biasanya. Kami, enam siswa yang tergabung dalam satu kelompok, telah berkumpul di depan kelas, bersiap untuk melaksanakan praktikum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kelompok kami terdiri dari saya sendiri, Nurma, Wulan, Bintang, Dzaky, dan Nazwan. Kegiatan diawali dengan game. Mengisi TTS dari penutup botol. Keseruan sangat terasa ketika berkompetisi antar kelompok.

Guru IPA kami, Pak Suhardin, dengan senyumnya yang khas, sudah berada di tengah-tengah kami. Beliau adalah guru yang selalu mendorong kami untuk belajar melalui praktik langsung. Praktikum kami hari ini adalah tentang Penyaringan Air Sederhana. Persiapan untuk praktikum ini sudah kami lakukan jauh-jauh hari. Sesuai instruksi Pak Suhardin, setiap anggota kelompok wajib membawa satu botol plastik bekas air mineral berukuran sedang (spesifiknya, botol Le Mineral) yang sama). 

Selain itu, kami juga bertugas mengumpulkan satu genggam pasir dan satu genggam kerikil. Kami telah mencuci material ini hingga benar-benar bersih dan mengeringkannya di bawah terik matahari, memastikan semuanya steril dan siap pakai. Di atas meja yang kami gunakan, semua bahan dan alat sudah tertata rapi.

Apa saja bahannya? Enam botol plastik Le Mineral (masing-masing botol memiliki tutup botol, satu ditutup tanpa lubang dan satu lagi dilubangi kecil). Ada pula kerikil, pasir yang sudah dicuci dan dikeringkan, kapas, air keruh (yang akan kami saring). Bagaimana dengan Alatnya? Kami menyiapkan gunting, mistar, dan buku catatan untuk hasil pengamatan.

Pak Suhardin membuka sesi dengan mengingatkan kami tujuan dari kegiatan ini yakni memahami prinsip dasar pemisahan zat melalui filtrasi dengan memanfaatkan material alami.

"Anak-anak, hari ini kita akan membuat alat penjernih air mini. Perhatikan langkah-langkahnya dengan teliti. Tujuan kita adalah melihat seberapa efektif susunan material ini dapat mengubah air keruh menjadi air yang lebih jernih," Jelas Pak Suhardin.

Kami mulai bekerja. Bintang dan Dzaky bertugas memotong bagian bawah botol plastik dengan hati-hati menggunakan gunting, sementara Wulan dan Nurma memastikan botol lainnya diposisikan terbalik. Tutup botol yang sudah dilubangi kecil dipasang pada botol yang akan dijadikan alat penyaring. Langkah berikutnya adalah menyusun lapisan material di dalam botol yang dibalik. Berdasarkan petunjuk, urutannya harus tepat.

 Saya bertugas memasukkan kapas sebagai lapisan paling bawah (menempel pada tutup botol yang berlubang). Kapas berfungsi sebagai media penahan pertama.  Setelah itu, Nurma memasukkan lapisan kerikil yang cukup tebal. Di atas kerikil, Wulan menyusul dengan lapisan pasir yang sudah bersih dan kering. Susunan ini diulang hingga hampir memenuhi badan botol, dengan Nazwan memastikan setiap lapisan dipadatkan dengan merata.

Alat penyaring sederhana kami pun siap. Kami menempatkan botol penyaring ini di atas botol lainnya yang berfungsi sebagai penampung air hasil saringan (filtrat). Dzaky bertugas menuangkan air keruh secara perlahan ke dalam alat penyaring buatan kami. Seketika, air keruh mulai meresap melalui lapisan pasir, kerikil, dan kapas. Kami semua menahan napas, mata kami tertuju pada tetesan air yang mulai keluar dari lubang tutup botol.

Air yang menetes ke botol penampung terlihat jauh lebih jernih dari air keruh yang kami tuangkan. Meski belum sepenuhnya bening seperti air minum, perubahan kejernihan airnya sangat signifikan. Nazwan dengan sigap mulai mencatat hasil pengamatan di buku. Kami mendiskusikan perbedaan warna, kekeruhan, dan kecepatan air menetes. Kami menggunakan mistar untuk memperkirakan ketebalan setiap lapisanisan material yang kami buat.

"Coba bandingkan dengan air yang kalian tuangkan, Nak." Kata Pak Suhardin sambil menunjuk ke kedua botol.  "Lapisan material ini memerangkap partikel-partikel padat penyebab keruhnya air. Ini adalah demonstrasi sederhana dari proses filtrasi."

Rasa antusias dan puas terpancar dari wajah kami. Praktikum di pagi hari itu bukan hanya sekadar tugas, tetapi pengalaman nyata yang mengajarkan kami tentang ilmu alam dan pentingnya kerja sama tim. Pukul 08.20, ketika praktikum selesai, kami membereskan alat dan bahan dengan rasa bangga akan hasil karya sederhana kami.

Paling di Sukai

CARA PRAKTIK ENERGI (EK,EP DAN EM) - "Energi yang Tak Terlihat: Eksperimen Kelereng Penabrak Botol!"

  "Pernahkah kalian bertanya, mengapa sebuah bola yang diam di ketinggian bisa meluncur dengan kekuatan yang begitu besar? Halo, saya S...