Bagaimana pendapat kalian tentang pernytaan berikut
- Alih fungsi lahan menjadi area beton di Wuawua
meningkatkan risiko penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) karena munculnya
genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
- Pendangkalan Teluk Kendari secara langsung
mengakibatkan masyarakat sekitar mengalami gangguan pernapasan kronis
akibat bau air laut.
- Kepadatan kendaraan bermotor di jalan protokol seperti
Jl. Ahmad Yani memicu peningkatan kasus ISPA pada warga karena penurunan
kualitas udara.
- Sistem drainase yang tersumbat sampah memicu genangan
yang meningkatkan risiko penularan penyakit diare dan gangguan kulit bagi
warga terdampak.
- Pembangunan ruko di daerah resapan air mengakibatkan polusi suara yang menjadi penyebab utama munculnya penyakit hipertensi pada masyarakat Kendari.
- Penumpukan sampah di pinggiran kota menyebabkan peningkatan populasi tikus yang secara langsung menyebarkan virus influenza kepada seluruh warga kota.
Kota Kendari memiliki kebutuhan air
bersih yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai
laju sekitar 2,1% per tahun. Berdasarkan data teknis PDAM Tirta Anoa, kebutuhan
air masyarakat Kendari mencapai sekitar 1.200 liter per detik, namun
kapasitas produksi riil saat ini baru menyentuh angka kisaran 600-700 liter
per detik.
Masalah utama tidak hanya pada
kuantitas, tetapi juga kualitas. Sumber air utama kita, Sungai Wanggu, sering
mengalami kekeruhan tinggi (NTU di atas normal) saat musim hujan akibat
sedimentasi, sementara di musim kemarau, debit air menurun drastis. Selain itu,
intrusi air laut mulai mengancam sumur-sumur dangkal milik warga di area
pesisir seperti di Kecamatan Kendari dan Kendari Barat.
Apa yang dapat kalian petik permasalahan tersebut?
Setiap harinya, Kota Kendari
memproduksi sampah sekitar 200 hingga 220 ton. Dari jumlah tersebut,
baru sekitar 80% yang mampu terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puuwatu.
Sisanya masih ada yang dibuang ke drainase, dibakar, atau menumpuk di tempat
pembuangan ilegal. TPA Puuwatu yang memiliki luas sekitar 40 hektare kini mulai
mendekati kapasitas maksimal (overload).
Masalah utama yang dihadapi adalah
rendahnya pemilahan sampah dari sumbernya (rumah tangga). Sampah organik yang
tercampur dengan sampah plastik di TPA menghasilkan gas metana (CH_4) yang
tinggi serta air lindi (leachate). Jika tidak dikelola dengan sistem sanitary
landfill yang baik, air lindi ini berisiko merembes ke air tanah dan
mencemari sumur warga di sekitar wilayah Puuwatu. Selain itu, penumpukan sampah
di selokan kota menjadi pemicu utama banjir genangan saat hujan deras melanda
wilayah Mandonga dan sekitarnya.
"Peningkatan penggunaan bahan
bakar fosil dan alih fungsi lahan hutan (deforestasi) secara teknis
meningkatkan konsentrasi gas CO_2 di atmosfer. Hal ini mengakibatkan
gelombang panas yang lebih ekstrem, namun secara ekologis hal tersebut
menguntungkan karena mempercepat siklus air global sehingga ketersediaan air
bersih di wilayah tropis seperti Indonesia akan selalu meningkat dan
stabil."
Menurutmu....apakah hal itu tepat?
Secara ilmiah (analisis C4):
- Gangguan Siklus Hidrologi: Pemanasan global memang mempercepat penguapan, namun
hal ini justru menyebabkan cuaca ekstrem. Hujan yang turun cenderung
terjadi dengan intensitas yang sangat tinggi dalam waktu singkat
(menyebabkan banjir/run-off), bukan terserap menjadi cadangan air tanah.
- Ketidakseimbangan Musim: Pemanasan global menyebabkan musim kemarau menjadi
lebih panjang dan panas (kekeringan ekstrem), yang justru menurunkan debit
air di sungai dan waduk.
- Kualitas Air:
Suhu air yang meningkat dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dan memicu
pertumbuhan alga yang merugikan kualitas air bersih.
Analisis Penjelasan
- Analisis Pengomposan:
Sampah organik (sisa makanan, kulit buah) yang dibuang begitu saja ke
tempat sampah biasanya akan tertimbun di TPA secara anaerob (tanpa
oksigen). Proses ini menghasilkan gas metana ($CH_4$), yang
memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih kuat daripada $CO_2$.
Dengan mengompos di rumah, siswa membantu mengurai sampah secara aerob
(dengan oksigen) yang jauh lebih ramah lingkungan.
- Analisis Arus Bocor (Vampire Power): Banyak siswa yang menganggap alat elektronik yang mati
tidak memakan listrik. Padahal, kabel yang tetap tercolok (seperti charger
HP atau TV) tetap menarik arus listrik kecil yang disebut standby power
atau "listrik vampir".
- Hubungan ke Pemanasan Global: Karena mayoritas listrik di Indonesia (termasuk untuk
wilayah Sulawesi Tenggara) masih dipasok oleh PLTU berbahan bakar batu
bara, maka setiap watt listrik yang dihemat secara langsung mengurangi
jumlah batu bara yang dibakar, sehingga emisi gas rumah kaca ($CO_2$)
berkurang.
menganalisis sumber asal
energi (apakah dari tanaman, air, panas bumi, atau matahari) dan tujuan
penggunaannya (apakah untuk listrik atau bahan bakar transportasi).
Siswa harus mampu membedakan bahwa tidak semua energi alternatif cocok untuk semua masalah; misalnya, Geotermal sangat spesifik untuk lokasi vulkanik, sedangkan Bioetanol spesifik untuk substitusi bahan bakar cair.
Analisis Komparatif siswa, di mana mereka harus membedakan dua teknologi
bioenergi berdasarkan:
- Wujud Zat:
Biogas berbentuk gas, Bioetanol berbentuk cair.
- Bahan Baku:
Biogas cenderung menggunakan limbah (kotoran/sampah), sedangkan Bioetanol
menggunakan tanaman budidaya (pati/gula).
- Proses Kimia:
Siswa diajak memahami bahwa "fermentasi" dapat menghasilkan
produk yang berbeda (gas vs alkohol) tergantung pada bahan baku dan
mikroorganisme yang terlibat.
Siswa harus melakukan Analisis
Kausalitas:
- Siswa harus membedakan antara faktor alam (El
Nino) dan faktor manusia (kerusakan hutan).
- Siswa harus memahami perbedaan antara mitigasi
teknis (embung) dan mitigasi sosial (diversifikasi pangan).
- Siswa diajak berpikir kritis bahwa pangan bukan hanya soal beras, tapi soal bagaimana memanfaatkan tanaman yang lebih kuat bertahan di cuaca panas (seperti ubi kayu atau jagung) untuk menjaga kedaulatan pangan saat krisis air.
Siswa mampu membedakan :
- El Nino
(Fenomena pemicu kekeringan panjang di Indonesia).
- Diversifikasi
(Usaha penganekaragaman konsumsi pangan).
- Ubi / Singkong
/ Jagung (Bisa dipilih salah satu, namun Ubi atau Singkong
sering menjadi pangan lokal pengganti saat krisis).
- Pertambangan
/ Tambang (Tantangan spesifik di wilayah Sultra seperti di Kolaka,
Konawe, atau Bombana).
- Embung
(Bangunan penampung air untuk irigasi skala kecil).
- Optimalisasi
(atau Pemanfaatan)
- Diversifikasi
(atau Penganekaragaman)
- Stabilitas
(atau Keberlanjutan)
- Penyangga
(atau Buffer)
- Berkelanjutan
(atau Mandiri)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)



