Kreativitasku - Suhardin

INOVASI PEMBELAJARAN - BERBAGI IDE DAN KREASI - KOKURIKULER - BULETIN SEKOLAH - KARYA ILMIAH

Senin, 13 April 2026

Materi Esensial tentang Isu-Isu Lingkungan

 


Bagaimana pendapat kalian tentang pernytaan berikut

  1. Alih fungsi lahan menjadi area beton di Wuawua meningkatkan risiko penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) karena munculnya genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
  2. Pendangkalan Teluk Kendari secara langsung mengakibatkan masyarakat sekitar mengalami gangguan pernapasan kronis akibat bau air laut.
  3. Kepadatan kendaraan bermotor di jalan protokol seperti Jl. Ahmad Yani memicu peningkatan kasus ISPA pada warga karena penurunan kualitas udara.
  4. Sistem drainase yang tersumbat sampah memicu genangan yang meningkatkan risiko penularan penyakit diare dan gangguan kulit bagi warga terdampak.
  5. Pembangunan ruko di daerah resapan air mengakibatkan polusi suara yang menjadi penyebab utama munculnya penyakit hipertensi pada masyarakat Kendari.
  6. Penumpukan sampah di pinggiran kota menyebabkan peningkatan populasi tikus yang secara langsung menyebarkan virus influenza kepada seluruh warga kota.

Kota Kendari memiliki kebutuhan air bersih yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai laju sekitar 2,1% per tahun. Berdasarkan data teknis PDAM Tirta Anoa, kebutuhan air masyarakat Kendari mencapai sekitar 1.200 liter per detik, namun kapasitas produksi riil saat ini baru menyentuh angka kisaran 600-700 liter per detik.

Masalah utama tidak hanya pada kuantitas, tetapi juga kualitas. Sumber air utama kita, Sungai Wanggu, sering mengalami kekeruhan tinggi (NTU di atas normal) saat musim hujan akibat sedimentasi, sementara di musim kemarau, debit air menurun drastis. Selain itu, intrusi air laut mulai mengancam sumur-sumur dangkal milik warga di area pesisir seperti di Kecamatan Kendari dan Kendari Barat.

Apa yang dapat kalian petik permasalahan tersebut?


Setiap harinya, Kota Kendari memproduksi sampah sekitar 200 hingga 220 ton. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 80% yang mampu terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puuwatu. Sisanya masih ada yang dibuang ke drainase, dibakar, atau menumpuk di tempat pembuangan ilegal. TPA Puuwatu yang memiliki luas sekitar 40 hektare kini mulai mendekati kapasitas maksimal (overload).

Masalah utama yang dihadapi adalah rendahnya pemilahan sampah dari sumbernya (rumah tangga). Sampah organik yang tercampur dengan sampah plastik di TPA menghasilkan gas metana (CH_4) yang tinggi serta air lindi (leachate). Jika tidak dikelola dengan sistem sanitary landfill yang baik, air lindi ini berisiko merembes ke air tanah dan mencemari sumur warga di sekitar wilayah Puuwatu. Selain itu, penumpukan sampah di selokan kota menjadi pemicu utama banjir genangan saat hujan deras melanda wilayah Mandonga dan sekitarnya.


"Peningkatan penggunaan bahan bakar fosil dan alih fungsi lahan hutan (deforestasi) secara teknis meningkatkan konsentrasi gas CO_2 di atmosfer. Hal ini mengakibatkan gelombang panas yang lebih ekstrem, namun secara ekologis hal tersebut menguntungkan karena mempercepat siklus air global sehingga ketersediaan air bersih di wilayah tropis seperti Indonesia akan selalu meningkat dan stabil."

Menurutmu....apakah hal itu tepat?


Secara ilmiah (analisis C4):

  1. Gangguan Siklus Hidrologi: Pemanasan global memang mempercepat penguapan, namun hal ini justru menyebabkan cuaca ekstrem. Hujan yang turun cenderung terjadi dengan intensitas yang sangat tinggi dalam waktu singkat (menyebabkan banjir/run-off), bukan terserap menjadi cadangan air tanah.
  2. Ketidakseimbangan Musim: Pemanasan global menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan panas (kekeringan ekstrem), yang justru menurunkan debit air di sungai dan waduk.
  3. Kualitas Air: Suhu air yang meningkat dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dan memicu pertumbuhan alga yang merugikan kualitas air bersih.

Analisis Penjelasan 

  1. Analisis Pengomposan: Sampah organik (sisa makanan, kulit buah) yang dibuang begitu saja ke tempat sampah biasanya akan tertimbun di TPA secara anaerob (tanpa oksigen). Proses ini menghasilkan gas metana ($CH_4$), yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih kuat daripada $CO_2$. Dengan mengompos di rumah, siswa membantu mengurai sampah secara aerob (dengan oksigen) yang jauh lebih ramah lingkungan.
  2. Analisis Arus Bocor (Vampire Power): Banyak siswa yang menganggap alat elektronik yang mati tidak memakan listrik. Padahal, kabel yang tetap tercolok (seperti charger HP atau TV) tetap menarik arus listrik kecil yang disebut standby power atau "listrik vampir".
  3. Hubungan ke Pemanasan Global: Karena mayoritas listrik di Indonesia (termasuk untuk wilayah Sulawesi Tenggara) masih dipasok oleh PLTU berbahan bakar batu bara, maka setiap watt listrik yang dihemat secara langsung mengurangi jumlah batu bara yang dibakar, sehingga emisi gas rumah kaca ($CO_2$) berkurang.

menganalisis sumber asal energi (apakah dari tanaman, air, panas bumi, atau matahari) dan tujuan penggunaannya (apakah untuk listrik atau bahan bakar transportasi).

Siswa harus mampu membedakan bahwa tidak semua energi alternatif cocok untuk semua masalah; misalnya, Geotermal sangat spesifik untuk lokasi vulkanik, sedangkan Bioetanol spesifik untuk substitusi bahan bakar cair.

Analisis Komparatif siswa, di mana mereka harus membedakan dua teknologi bioenergi berdasarkan:

  1. Wujud Zat: Biogas berbentuk gas, Bioetanol berbentuk cair.
  2. Bahan Baku: Biogas cenderung menggunakan limbah (kotoran/sampah), sedangkan Bioetanol menggunakan tanaman budidaya (pati/gula).
  3. Proses Kimia: Siswa diajak memahami bahwa "fermentasi" dapat menghasilkan produk yang berbeda (gas vs alkohol) tergantung pada bahan baku dan mikroorganisme yang terlibat.

Siswa harus melakukan Analisis Kausalitas:

  1. Siswa harus membedakan antara faktor alam (El Nino) dan faktor manusia (kerusakan hutan).
  2. Siswa harus memahami perbedaan antara mitigasi teknis (embung) dan mitigasi sosial (diversifikasi pangan).
  3. Siswa diajak berpikir kritis bahwa pangan bukan hanya soal beras, tapi soal bagaimana memanfaatkan tanaman yang lebih kuat bertahan di cuaca panas (seperti ubi kayu atau jagung) untuk menjaga kedaulatan pangan saat krisis air.

Siswa mampu membedakan :

  1. El Nino (Fenomena pemicu kekeringan panjang di Indonesia).
  2. Diversifikasi (Usaha penganekaragaman konsumsi pangan).
  3. Ubi / Singkong / Jagung (Bisa dipilih salah satu, namun Ubi atau Singkong sering menjadi pangan lokal pengganti saat krisis).
  4. Pertambangan / Tambang (Tantangan spesifik di wilayah Sultra seperti di Kolaka, Konawe, atau Bombana).
  5. Embung (Bangunan penampung air untuk irigasi skala kecil).
Pahami Perbedaannya
  1. Optimalisasi (atau Pemanfaatan)
  2. Diversifikasi (atau Penganekaragaman)
  3. Stabilitas (atau Keberlanjutan)
  4. Penyangga (atau Buffer)
  5. Berkelanjutan (atau Mandiri)


Kreasi Siswa - Lapisan Bumi


 

Paling di Sukai

Materi Esensial tentang Isu-Isu Lingkungan

  Bagaimana pendapat kalian tentang pernytaan berikut Alih fungsi lahan menjadi area beton di Wuawua meningkatkan risiko penyakit Dem...

Paling dicari