Kamis, 14 Agustus 2025

Sarapan Pagiku Beradatif - Cerita Inspirasi Pembelajaran Siswa

 

Inayah - Ayam Serundeng, Sarapan Lezat Penuh Manfaat

Pagi itu, matahari baru saja muncul di ufuk timur. Udara di rumahku terasa segar, dan aku sudah semangat karena hari ini adalah jadwal proyek sarapan pagi dari Pak Suhardin, guru IPA-ku. Tema yang kupilih adalah Zat Aditif pada Menu Sarapan Pagi, dan pilihanku jatuh pada Ayam Serundeng.

Aku mulai menyiapkan bahan-bahan di dapur. Potongan ayam segar sudah dicuci bersih, lalu aku siapkan bumbu-bumbunya: bawang putih, bawang merah, ketumbar, kunyit, jahe, serai, daun jeruk, dan parutan kelapa. Tak lupa, aku juga menambahkan sedikit garam dan gula pasir. Nah, garam dan gula ini adalah contoh zat aditif alami. Garam berfungsi memberi rasa gurih sekaligus membantu mengawetkan makanan, sedangkan gula memberi rasa manis seimbang pada serundeng sekaligus membantu mengawetkan parutan kelapa agar tidak cepat basi.

Selain itu, aku menggunakan asam jawa untuk memberi rasa asam segar pada bumbu. Asam jawa ini juga termasuk zat aditif alami karena memberikan cita rasa sekaligus mengandung vitamin yang baik untuk tubuh. Semua bahan ini bukan hanya membuat ayam serundengku lezat, tapi juga punya manfaat bagi tubuh.

Garam: membantu menjaga keseimbangan elektrolit tubuh.

Gula: sumber energi cepat untuk beraktivitas.

Kunyit: mengandung antioksidan yang baik untuk daya tahan tubuh.

Jahe: menghangatkan tubuh dan membantu pencernaan.

Saat memasak, aroma harum kelapa yang disangrai bercampur dengan bumbu membuatku semakin lapar. Setelah matang, ayam serundengku terlihat menggoda dengan warna keemasan dan taburan serundeng kelapa yang renyah. Aku mengemasnya rapi di wadah, siap dibawa ke sekolah.

Di sekolah, aku dan teman-temanku berkumpul di taman untuk sarapan bersama. Mereka langsung memuji aroma ayam serundeng buatanku. Saat kami menyantapnya bersama, suasana menjadi hangat dan penuh tawa. Rasanya menyenangkan sekali melihat teman-temanku menikmati masakanku.

Hari itu bukan hanya tentang sarapan, tapi juga tentang belajar bahwa zat aditif—selama alami dan digunakan dengan tepat—bisa membuat makanan lebih enak dan bermanfaat. Proyek ini membuatku semakin semangat untuk belajar IPA dan mencoba resep sehat lainnya.


Nasi Kuning dan Petualangan Zat Aditifnya - Alin Methano

Pagi ini, aku bersemangat sekali. Tugas proyek IPA dari Pak Surhadin membuatku bangun lebih awal dari biasanya. Tema proyeknya adalah "Apa Saja Zat Aditif pada Menu Sarapan Pagiku," dan aku memilih Nasi Kuning sebagai menu andalanku. Tentu saja, Nasi Kuning tak lengkap tanpa lauk favoritku: mie goreng dan telur balado.

Aku mulai petualangan di dapur bersama Ibu. Aroma rempah-rempah langsung menyambutku. Untuk membuat nasi kuning, Ibu menggunakan kunyit. Ibu bilang, kunyit ini termasuk pewarna alami. Kunyit memberikan warna kuning cerah yang cantik pada nasi, sekaligus punya manfaat kesehatan yang luar biasa. Kandungan kurkumin di dalamnya bisa membantu mengurangi peradangan dan melindungi sel-sel tubuhku. Jadi, nasi kuningku tidak hanya enak, tapi juga menyehatkan!

Setelah nasi kuning siap, giliran membuat lauk. Untuk mie goreng, Ibu menggunakan bumbu instan. Aku melihat di kemasannya, ada beberapa zat aditif. Salah satunya adalah monosodium glutamat (MSG). Kata Ibu, MSG adalah penguat rasa yang membuat mie goreng terasa lebih gurih dan lezat. Selain itu, ada juga natrium benzoat yang berfungsi sebagai pengawet. Zat ini membantu makanan tidak cepat basi, jadi mie goreng bisa tetap awet dan aman dimakan.

Terakhir, membuat telur balado. Balado yang lezat identik dengan rasa pedas dan warnanya yang merah merona. Warna merah pada bumbu balado biasanya didapat dari pewarna alami seperti cabai. Cabai mengandung zat bernama kapsaisin yang memberikan rasa pedas. Namun, seringkali bumbu balado instan juga menggunakan pewarna sintetik seperti Tartrazine (CI 19140) untuk memberikan warna kuning pada bumbu dan Sunset Yellow FCF (CI 15985) untuk memberikan warna jingga atau merah.
Setelah semua makanan siap, aku buru-buru memasukkannya ke dalam kotak bekal. Aku tak sabar untuk pamer ke teman-temanku di sekolah. Bel sekolah berbunyi, pertanda waktu istirahat tiba. Aku dan teman-temanku, Kiki dan Rian, berkumpul di taman. Kami membuka bekal masing-masing. Mereka terkagum-kagum melihat bekal nasi kuningku yang terlihat lezat.

Kami makan bersama sambil tertawa dan bercerita. Aku menceritakan tentang proyek IPA-ku, tentang kunyit, MSG, dan zat-zat lain yang ada di dalam sarapanku. Rian dan Kiki mendengarkan dengan antusias. Mereka jadi tahu, ternyata di balik makanan yang lezat, ada banyak zat aditif yang berperan.
Proyek Pak Surhadin ini bukan hanya membuatku tahu tentang zat aditif, tapi juga memberiku momen berharga. Momen menyiapkan sarapan pagi bersama Ibu dan momen makan bersama di sekolah bersama teman-teman. Rasanya, nasi kuningku pagi ini bukan hanya lezat karena bumbu-bumbu, tapi juga karena cinta dan kebersamaan.



Sarapan Pagi Lezatku: Nasi dan Ayam Goreng - Sria Amelia Wulandari

Pagi itu, sinar matahari menyapa kota Kendari dengan hangat. Seperti biasa, aku, Amel, siswi kelas XI.2 SMP Negeri 17 Kendari, memulai hariku dengan semangat. Hari ini istimewa, karena Pak Suhardin, guru IPA kami, memberi tugas membuat proyek sarapan pagi dengan tema zat aditif. Pilihanku jatuh pada menu favoritku: nasi putih hangat dan ayam goreng renyah.

Seusai sholat Subuh, aku membantu Ibu di dapur. Pertama, kami menyiapkan ayam segar yang sudah dibersihkan. Untuk membuat rasanya gurih dan lezat, kami menambahkan garam sebagai penyedap alami. Garam ini merupakan zat aditif alami yang berfungsi memberi rasa asin sekaligus membantu mengawetkan bahan makanan agar lebih tahan lama.

Selain garam, Ibu menambahkan sedikit kunyit bubuk untuk memberi warna keemasan pada ayam goreng dan menambah aroma khas. Kunyit juga termasuk zat aditif alami yang bermanfaat sebagai antioksidan bagi tubuh, membantu menjaga daya tahan tubuh, dan baik untuk pencernaan. Kami juga menambahkan sedikit bawang putih yang mengandung zat alami berkhasiat, mampu memberikan rasa gurih sekaligus membantu melawan bakteri.

Setelah ayam dibumbui, Ibu membiarkannya meresap sebentar sebelum digoreng hingga berwarna cokelat keemasan dan harum semerbak memenuhi dapur. Sementara itu, nasi putih hangat siap menemani ayam goreng tersebut di piring.

Aku merasa senang sekali menyiapkan menu ini, apalagi membayangkan akan menikmatinya bersama teman-teman di sekolah. Saat waktu sarapan tiba, aku duduk di kantin sekolah bersama mereka. Kami saling mencicipi menu masing-masing, bercerita, dan tertawa bersama. Makanan terasa lebih nikmat karena disantap sambil berbagi kebahagiaan.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa zat aditif tidak selalu buruk. Ada zat aditif alami seperti garam, kunyit, dan bawang putih yang tidak hanya membuat makanan lebih enak, tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan memilih bahan yang tepat, sarapan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan.



Cerita: “Makanan Nasi Goreng Sekaligus Telur” - Azzayrah K

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamarku. Alarm belum sempat berbunyi, tapi aku sudah bangun dengan semangat. Hari ini, Pak Suhardin memberi tugas IPA untuk membuat proyek sarapan pagi. Tema yang kupilih adalah “Makanan Nasi Goreng Sekaligus Telur”.

Aku langsung menuju dapur. Ibu sudah menyiapkan bahan-bahan: nasi putih, telur ayam, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap manis, garam, minyak goreng, dan sedikit penyedap rasa.

Sambil menyalakan kompor, aku berpikir tentang zat aditif apa saja yang ada di menu sarapanku:

1. Kecap Manis – Mengandung zat aditif berupa pengawet alami (misalnya garam dan gula tinggi) untuk membuatnya tahan lama.

Manfaat: Memberi rasa manis dan gurih pada nasi goreng, serta menambah energi dari kandungan gulanya.

2. Garam – Termasuk zat aditif pemberi rasa (flavor enhancer).

Manfaat: Membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan fungsi saraf.

3. Penyedap Rasa (Monosodium Glutamat / MSG) – Termasuk zat aditif penyedap rasa buatan.

Manfaat: Membuat rasa gurih lebih kuat sehingga makanan lebih enak, meski harus digunakan secukupnya.

4. Minyak Goreng – Kadang mengandung zat aditif antioksidan sintetis seperti BHA atau BHT untuk mencegah minyak cepat tengik.

Manfaat: Membantu proses memasak dan memberi tekstur renyah pada nasi dan telur.

Aku menumis bawang dan cabai, lalu memasukkan nasi. Aroma harum langsung memenuhi dapur. Setelah nasi goreng matang, aku menggoreng telur mata sapi dengan kuning telur yang meleleh sempurna.

Setelah semua siap, aku memasukkan nasi goreng dan telur ke dalam kotak makan. Aku tak sabar membawanya ke sekolah.

Di sekolah, saat jam istirahat tiba, aku duduk bersama teman-temanku di taman. Mereka melihat nasi goreng buatanku dan berkata,
“Wah, Azzayrah! Nasi gorengmu wangi sekali!”

Kami pun makan bersama sambil bercanda. Rasanya bahagia sekali—bukan hanya karena makanannya enak, tapi juga karena aku bisa belajar tentang zat aditif dan manfaatnya sambil berbagi dengan teman-teman.

Kesimpulannya, nasi goreng dan telur tidak hanya mengenyangkan, tapi juga mengandung zat aditif yang, jika digunakan dengan tepat, bermanfaat bagi tubuh. Dan yang paling penting, sarapan bersama membuat hari di sekolah jadi lebih bersemangat!


Mie Goreng dan Telur Goreng, Sarapan Favoritku yang Penuh Energi!

Pagi itu, matahari baru saja menyapa kota Kendari. Seperti biasa, aku bangun lebih awal karena hari ini aku punya rencana spesial: membuat sarapan sendiri! Aku, Muh. Irfan Aditya, siswa kelas 9.2 SMP Negeri 17 Kendari, ingin membuat menu sarapan favoritku: mie goreng dan telur goreng.

Dengan semangat, aku menuju dapur. Aku keluarkan satu bungkus mie instan dari lemari makanan. Aku juga mengambil sebutir telur ayam dari kulkas. Wajahku ceria karena hari ini aku akan menyiapkan makanan penuh rasa dan energi!

Saat mie direbus, aroma gurihnya mulai menyebar. Aku menyiapkan bumbunya—ada bubuk penyedap, minyak, dan kecap. Di saat yang sama, aku memanaskan sedikit minyak di wajan untuk menggoreng telur. Satu per satu, proses memasak kulalui dengan senang hati.

Namun, saat memasak, aku juga jadi berpikir: “Apa sih zat aditif yang ada dalam mie goreng dan telur gorengku ini?” Karena ini adalah tugas dari Pak Suhardin, aku pun mulai memperhatikan lebih cermat.

Zat Aditif pada Mie Goreng dan Telur Goreng
Mie Instan:

Mononatrium Glutamat (MSG)
→ Ini adalah zat penyedap rasa yang membuat mie terasa lebih gurih dan enak.
Manfaat: Memberikan rasa lezat, tapi harus dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Pengawet (biasanya Tertulis Sebagai TBHQ atau BHA)
→ Agar mie instan tahan lama di kemasan.
Manfaat: Membantu makanan tidak cepat basi, tapi sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.

Pewarna Makanan (misalnya Karamel untuk warna kecokelatan)
→ Membuat mie terlihat lebih menarik.
Manfaat: Hanya untuk tampilan, tidak menambah nilai gizi.

Telur Goreng:

Biasanya tidak mengandung zat aditif jika dimasak langsung dari telur segar. Namun, jika ditambah kecap atau saus botolan, bisa jadi ada:

Pengawet (Natrium Benzoat)

Pewarna buatan

Pemanis buatan (jika menggunakan kecap manis)
Semua ini bertujuan untuk menjaga rasa dan ketahanan produk.

Manfaat Sarapan Mie Goreng dan Telur Goreng Bagi Tubuhku
Mie mengandung karbohidrat yang menjadi sumber energi utamaku untuk belajar.

Telur kaya protein yang membantu membentuk otot dan menjaga daya tahan tubuh.

Dengan tambahan sayur atau buah, tentu sarapan ini akan lebih seimbang!

Sarapan Bersama di Sekolah, Momen yang Menyenangkan!
Setelah sarapan selesai, aku membungkus sebagian untuk kubawa ke sekolah. Saat istirahat tiba, aku dan teman-temanku duduk bersama di taman sekolah. Kami saling membuka bekal dan mencicipi makanan satu sama lain. Aku pun bangga saat temanku berkata:

"Wah, mie goreng dan telurnya enak, Irfan! Kamu masak sendiri, ya?"

Aku tersenyum lebar. Rasanya menyenangkan bisa berbagi hasil masakan sendiri, apalagi setelah tahu apa saja zat aditif yang terkandung di dalamnya. Aku jadi lebih sadar akan pentingnya memilih dan mengonsumsi makanan yang sehat.

Penutup
Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal kandungan di dalamnya. Zat aditif bisa berguna jika digunakan dengan benar, tapi kita juga harus pintar dalam memilih dan mengontrol jumlahnya. Semoga besok pagi aku bisa mencoba menu lain yang lebih sehat dan bergizi!

Pagi Ceria Bersama Nasi Telur Ikan Sayur Pagi itu, aku—Ahmad Fajar, siswa kelas 9.2 SMP 17 Kendari—

Bangun lebih awal dari biasanya. Hari ini istimewa, karena kami mendapat tugas proyek dari Pak Suhardin, guru IPA kami, untuk membuat menu sarapan pagi yang mengandung zat aditif. Tema ini sangat menarik karena kami diminta tidak hanya membuat makanan, tapi juga memahami apa saja zat aditif di dalamnya dan manfaatnya bagi tubuh. 

Aku memutuskan untuk membuat menu favoritku: Nasi Telur Ikan Sayur. Menu sederhana tapi lengkap gizi, dan pastinya disukai oleh banyak orang. Menyiapkan Sarapan dengan Semangat Dengan semangat, aku membantu ibu di dapur. Aku menanak nasi, menggoreng telur, mengolah ikan goreng, dan menumis sayuran seperti wortel dan buncis. Saat memasak, aku juga memperhatikan bahan-bahan tambahan yang digunakan. Ternyata, di balik kelezatan makanan ini, ada zat aditif yang berperan penting. 

Zat Aditif dalam Menu Sarapanku Berikut adalah beberapa zat aditif yang aku temukan dalam proses memasak: MSG (Monosodium Glutamate) Digunakan saat ibu menumis sayur dan memasak ikan. Fungsi: Menambah cita rasa gurih pada makanan. Manfaat: Dalam jumlah wajar, membantu meningkatkan selera makan. Garam Dapur (Natrium Klorida) Digunakan untuk memberi rasa pada semua masakan. Fungsi: Sebagai penyedap dan pengawet alami. Manfaat: Menjaga keseimbangan elektrolit tubuh. 

Minyak Goreng Meski bukan zat aditif, kadang minyak goreng mengandung antioksidan sintetis (seperti BHA atau BHT) untuk mencegah tengik. Fungsi: Menjaga minyak agar tidak cepat rusak. Manfaat: Memastikan makanan aman dikonsumsi. Pewarna Alami (Warna sayur) Wortel mengandung beta-karoten yang memberi warna oranye cerah. Fungsi: Memberi warna alami pada makanan. Manfaat: Baik untuk kesehatan mata dan sebagai antioksidan alami. Sarapan Bersama di Sekolah Sesampainya di sekolah, aku membawa kotak bekal yang berisi nasi telur ikan sayur yang sudah kuhias dengan rapi. Di kelas, suasananya sangat meriah. 

Semua teman membawa berbagai menu menarik dengan ide kreatif mereka masing-masing. Kami pun saling mencicipi dan bertukar cerita tentang zat aditif yang digunakan dalam makanan kami. Saat kami makan bersama di halaman sekolah, rasanya benar-benar menyenangkan. Tertawa, saling memuji masakan satu sama lain, dan belajar sambil menikmati makanan sehat. 

Aku merasa bangga karena bisa menyiapkan sarapan sendiri, memahami kandungan di dalamnya, dan berbagi kebahagiaan dengan teman-temanku. Penutup Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa zat aditif tidak selalu berbahaya, asalkan digunakan dalam jumlah yang tepat dan aman. Sarapan pagiku yang sederhana ternyata kaya akan gizi dan pelajaran. Aku juga semakin sadar betapa pentingnya memulai hari dengan makanan sehat dan penuh cinta



"Kelezatan Nasi Kuning"

Karya: Fadillah Khairun Niaa, Kelas IX²

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut ke balik jendela kamar. Aku terbangun dengan semangat yang luar biasa, karena hari ini aku akan membawa sarapan spesial ke sekolah. Bukan sekadar sarapan biasa, tapi hasil karya tanganku sendiri—menu andalan yang aku beri nama “Kelezatan Nasi Kuning”.

Menu sarapan yang aku siapkan terdiri dari:

Nasi kuning harum

Ayam kecap manis gurih

Tahu dan tempe kecap

Mi goreng kecap

Meski sederhana, menu ini penuh warna, rasa, dan tentu saja… cerita.

✦ Menyiapkan Sarapan dengan Cinta

Pukul lima pagi aku sudah di dapur. Dengan bantuan ibuku, aku mulai memasak. Nasi kuning dimasak menggunakan santan dan kunyit, membuat aromanya harum dan warnanya kuning cerah. Ayam dimasak dengan kecap manis dan sedikit bawang goreng, lalu tahu dan tempe ikut menyusul, dimasak dengan saus kecap yang kental. Terakhir, aku menggoreng mi dengan kecap dan sayuran.

Ternyata, selama memasak aku belajar banyak hal. Salah satunya tentang zat aditif yang sering kita temui dalam bahan makanan.

✦ Zat Aditif di Menu Sarapan Pagi

Dalam menu “Kelezatan Nasi Kuning ”, ada beberapa zat aditif yang umum digunakan, baik yang alami maupun buatan. Berikut penjelasannya:

Kunyit (pada nasi kuning)

Jenis zat aditif: Pewarna alami

Manfaat: Memberi warna kuning alami dan mengandung antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh.

Kecap manis (digunakan pada ayam, tahu, tempe, dan mi goreng)

Zat aditif yang mungkin terkandung:

Pengawet (seperti natrium benzoat)

Pemanis (gula atau sakarin)

Pewarna makanan (karamel)

Manfaat: Menambah cita rasa dan daya tahan makanan. Gula sebagai pemanis juga memberikan energi cepat bagi tubuh.

Mi instan atau mi goreng kecap

Zat aditif:

MSG (Monosodium Glutamate) sebagai penyedap rasa

Antioksidan dan pengawet agar mi tahan lama

Manfaat: Memberikan rasa gurih dan membuat makanan tahan disimpan lebih lama. Namun, penggunaannya harus dibatasi agar tidak berlebihan.

Bawang goreng (pada ayam dan nasi)

Jenis zat aditif alami: Penguat rasa alami

Manfaat: Menambah aroma dan cita rasa pada makanan tanpa efek samping yang berbahaya.

Meskipun beberapa zat aditif buatan aman dalam batas tertentu, penting bagi kita untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Tubuh kita tetap lebih menyukai makanan yang segar dan alami.

✦ Sarapan Ceria di Sekolah

Sesampainya di sekolah, aku membuka bekalku dengan rasa bangga. Teman-temanku langsung tertarik mencium aroma nasi kuning yang menggoda. Kami duduk melingkar di bawah pohon rindang di halaman sekolah, saling mencicipi bekal satu sama lain.

“Fadillah, enak banget ayam kecapnya!” kata Ayu sambil tersenyum.

“Aku suka tahu tempenya, gurih dan manis!” tambah Riko.

Aku senang sekali melihat teman-temanku menikmati masakanku. Rasanya semua lelah saat memasak pagi tadi langsung terbayar. Kami pun membahas tugas IPA sambil makan, saling berbagi pengetahuan tentang zat aditif yang ada di makanan kami masing-masing.

✦ Penutup

Melalui tugas ini, aku jadi sadar bahwa makanan yang kita konsumsi setiap hari ternyata menyimpan banyak ilmu di dalamnya. Aku belajar bahwa zat aditif bisa bermanfaat jika digunakjudul: "Kelezatan Nasi Kuning"

Karya: Fadillah Khairun Niaa, Kelas IX²

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut ke balik jendela kamar. Aku terbangun dengan semangat yang luar biasa, karena hari ini aku akan membawa sarapan spesial ke sekolah. Bukan sekadar sarapan biasa, tapi hasil karya tanganku sendiri—menu andalan yang aku beri nama “Kelezatan Nasi Kuning”.

Menu sarapan yang aku siapkan terdiri dari:

Nasi kuning harum

Ayam kecap manis gurih

Tahu dan tempe kecap

Mi goreng kecap

Meski sederhana, menu ini penuh warna, rasa, dan tentu saja… cerita.

✦ Menyiapkan Sarapan dengan Cinta

Pukul lima pagi aku sudah di dapur. Dengan bantuan ibuku, aku mulai memasak. Nasi kuning dimasak menggunakan santan dan kunyit, membuat aromanya harum dan warnanya kuning cerah. Ayam dimasak dengan kecap manis dan sedikit bawang goreng, lalu tahu dan tempe ikut menyusul, dimasak dengan saus kecap yang kental. Terakhir, aku menggoreng mi dengan kecap dan sayuran.

Ternyata, selama memasak aku belajar banyak hal. Salah satunya tentang zat aditif yang sering kita temui dalam bahan makanan.

✦ Zat Aditif di Menu Sarapan Pagi

Dalam menu “Kelezatan Nasi Kuning ”, ada beberapa zat aditif yang umum digunakan, baik yang alami maupun buatan. Berikut penjelasannya:

Kunyit (pada nasi kuning)

Jenis zat aditif: Pewarna alami

Manfaat: Memberi warna kuning alami dan mengandung antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh.

Kecap manis (digunakan pada ayam, tahu, tempe, dan mi goreng)

Zat aditif yang mungkin terkandung:

Pengawet (seperti natrium benzoat)

Pemanis (gula atau sakarin)

Pewarna makanan (karamel)

Manfaat: Menambah cita rasa dan daya tahan makanan. Gula sebagai pemanis juga memberikan energi cepat bagi tubuh.

Mi instan atau mi goreng kecap

Zat aditif:

MSG (Monosodium Glutamate) sebagai penyedap rasa

Antioksidan dan pengawet agar mi tahan lama

Manfaat: Memberikan rasa gurih dan membuat makanan tahan disimpan lebih lama. Namun, penggunaannya harus dibatasi agar tidak berlebihan.

Bawang goreng (pada ayam dan nasi)

Jenis zat aditif alami: Penguat rasa alami

Manfaat: Menambah aroma dan cita rasa pada makanan tanpa efek samping yang berbahaya.

Meskipun beberapa zat aditif buatan aman dalam batas tertentu, penting bagi kita untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Tubuh kita tetap lebih menyukai makanan yang segar dan alami.

✦ Sarapan Ceria di Sekolah

Sesampainya di sekolah, aku membuka bekalku dengan rasa bangga. Teman-temanku langsung tertarik mencium aroma nasi kuning yang menggoda. Kami duduk melingkar di bawah pohon rindang di halaman sekolah, saling mencicipi bekal satu sama lain.

“Fadillah, enak banget ayam kecapnya!” kata Ayu sambil tersenyum.

“Aku suka tahu tempenya, gurih dan manis!” tambah Riko.

Aku senang sekali melihat teman-temanku menikmati masakanku. Rasanya semua lelah saat memasak pagi tadi langsung terbayar. Kami pun membahas tugas IPA sambil makan, saling berbagi pengetahuan tentang zat aditif yang ada di makanan kami masing-masing.

✦ Penutup

Melalui tugas ini, aku jadi sadar bahwa makanan yang kita konsumsi setiap hari ternyata menyimpan banyak ilmu di dalamnya. Aku belajar bahwa zat aditif bisa bermanfaat jika digunakan dengan benar, dan bahwa memasak sendiri membawa kepuasan yang luar biasa.an dengan benar, dan bahwa memasak sendiri membawa kepuasan yang luar biasa.




Rabu, 13 Agustus 2025

CERITA MERAKA - MENU SARAPAN BUATAN SENDIRI

 


KADEK AGUS DARMA LAKSONO (13) 

Hari ini saya ingin menceritakan pengalaman saya membuat bekal untuk dibawa ke sekolah. Bekal yang saya bawa terdiri dari nasi putih, mie goreng, telur ceplok, dan ayam goreng. Saya akan menjelaskan proses pembuatannya dan juga zat aditif yang mungkin terkandung di dalamnya.

Pertama, saya menyiapkan nasi putih. Nasi dimasak menggunakan beras dan air di rice cooker hingga matang. Kedua, saya membuat mie goreng. Mie instan direbus terlebih dahulu, lalu dibuang airnya dan ditumis dengan bumbu. Bumbu mie instan biasanya mengandung zat aditif seperti pengawet (untuk menjaga keawetan mie), pewarna (untuk mempercantik warna), dan penyedap rasa seperti monosodium glutamat (MSG).

Setelah itu, saya membuat telur ceplok. Telur digoreng menggunakan sedikit minyak hingga matang. Minyak goreng kemasan biasanya juga mengandung zat antioksidan seperti BHA atau BHT untuk mencegah minyak cepat tengik.

Terakhir, saya menggoreng ayam. Ayam biasanya diberi bumbu sebelum digoreng. Jika menggunakan bumbu instan, kemungkinan mengandung pewarna makanan, penguat rasa, dan pengawet.

Bekal ini saya susun di kotak makan: nasi di bagian bawah, lalu mie goreng di sebelahnya, telur ceplok di atas nasi, dan ayam goreng di sampingnya.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa meskipun bekal yang saya bawa terlihat sederhana dan lezat, beberapa bahan di dalamnya mengandung zat aditif yang berfungsi untuk menjaga rasa, warna, dan daya simpan. Namun, penggunaan zat aditif sebaiknya tetap dibatasi agar makanan yang kita konsumsi lebih sehat.


Rasya Ariyandi A. Kls:9.3

Saya ingin Ceritakan ini refleksi tentang zat aditif pada sarapan pagi, . Zat aditif adalah zat yang ditambahkan ke makanan untuk tujuan tertentu seperti pengawet, pewarna, atau penyedap rasa.

Refleksi Sarapan Pagi

Pagi itu, aku duduk di meja makan dengan piring berisi nasi goreng sosis dan telur mata sapi, ditemani semangkuk kecil sayur tempe. Aroma sedapnya langsung membuat perutku keroncongan. Namun, saat menyendokkan suapan pertama, pikiranku tiba-tiba melayang.

Nasi Goreng

Rasa gurih dan warnanya yang cokelat pekat membuatku sadar. Kenapa nasi goreng buatan rumah sering kali terasa berbeda dengan yang dijual di warung? Ternyata, banyak warung menambahkan monosodium glutamat (MSG) sebagai penyedap rasa. Zat aditif ini membuat nasi goreng terasa lebih "nendang" di lidah. Aku jadi berpikir, apakah aku benar-benar menyukai rasa nasi goreng itu sendiri, ataukah aku sudah terbiasa dengan rasa yang diciptakan oleh zat aditif?

Sosis

Aku beralih ke sosis yang kugoreng hingga permukaannya agak kering. Warna merah mudanya yang cerah tampak sangat menarik. Aku tahu, warna itu bukan warna alami daging. Produsen menggunakan pewarna makanan agar sosis terlihat lebih segar dan menggugah selera. Selain itu, untuk menjaga agar sosis tidak cepat basi, mereka pasti menggunakan pengawet. Refleksi ini membuatku bertanya-tanya, seberapa banyak bahan tambahan yang sebenarnya masuk ke dalam tubuhku?

Telur dan Sayur Tempe

Namun, saat melihat telur mata sapi dan sayur tempe, hatiku terasa lebih tenang. Telur itu hanyalah telur, digoreng dengan sedikit minyak. Sementara sayur tempe, rasanya murni dari bumbu alami seperti bawang dan cabai. Di sana, aku menemukan rasa yang jujur dan apa adanya. Aku menyadari bahwa ada keindahan dalam kesederhanaan makanan yang tidak banyak diolah.

Sarapan pagiku hari itu terasa berbeda. Bukan hanya soal rasa, tapi juga kesadaran. Aku jadi lebih menghargai makanan alami dan ingin lebih bijak dalam memilih apa yang kumakan, bukan hanya yang enak di lidah, tapi juga baik untuk tubuhku.

saya Axelle Justin, siswa kelas 9.3 SMP 17 Kendari. Hari itu, seperti biasa, saya membawa bekal dari rumah. Bekalnya sederhana, tapi sangat menggugah selera—nasi goreng dengan telur dadar. Ibu yang memasaknya pagi-pagi sekali sebelum saya berangkat sekolah. Aromanya saja sudah membuat saya ingin cepat-cepat.

saya membuka bekal dengan semangat. Teman-teman di sekitar saya juga membawa bekal masing-masing, dan kami saling membandingkan menu. Ada yang membawa mi goreng, ayam goreng, bahkan ada juga yang hanya membeli jajanan di kantin.

Sambil makan, guru IPA kami lewat dan duduk sebentar menemani kami. Beliau melihat bekal saya dan berkata, “Wah, nasi goreng telur dadar, enak sekali. Tapi kalian tahu tidak, makanan seperti ini sering mengandung zat aditif?”Saya dan teman-teman terdiam sebentar. Lalu beliau menjelaskan bahwa dalam makanan seperti nasi goreng, sering kali terdapat zat aditif seperti:. Penyedap rasa (MSG / Monosodium Glutamat), yang digunakan agar rasa gurihnya lebih kuat.

Pewarna makanan, jika nasi goreng terlihat terlalu kuning atau merah, bisa jadi ditambahkan pewarna, meskipun kadang hanya dari kecap atau bumbu alami. Pengawet, jika menggunakan sosis atau bahan olahan lainnya yang dibeli di pasar. Penguat aroma, yang membuat makanan lebih harum tapi sebenarnya tidak alami.

Saya terdiam sejenak. Selama ini saya makan tanpa berpikir panjang soal kandungan di dalam makanan itu. Padahal, zat aditif jika dikonsumsi berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan, seperti sakit kepala, alergi, bahkan gangguan pencernaan.

Hari itu saya pulang ke rumah dan bertanya kepada ibu tentang bahan-bahan yang beliau pakai untuk membuat nasi goreng. Syukurlah, ibu lebih banyak menggunakan bahan alami, seperti bawang putih, kecap, dan garam tanpa MSG tambahan.

Dari kejadian itu, saya belajar satu hal penting: menjadi sehat bukan hanya tentang makan kenyang, tetapi juga tentang memahami apa yang kita makan. Sekarang, saya lebih perhatian terhadap bekal saya, dan mulai membantu ibu memasak agar saya tahu apa saja yang masuk ke tubuh saya. Itulah refleksi saya hari ini—tentang sepiring nasi goreng yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menyadarkan saya akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.


HIKMAH (11) 9.3

Pagi itu dikelas mengadakan kegiatan makan bersama di kelas. Semua murid diminta membawa bekal dari rumah. Aku dan ibu menyiapkan bekal spesial berisi nasi goreng yang harum, kangkung tumis segar, dan nugget ayam gurih. Bekal itu kutaruh di kotak makan warna ungu kesayanganku, lalu kubawa ke sekolah.

Jam pertama dimulai dengan pelajaran IPA. Sebelum mulai belajar, pak guru berkata, “Hari ini kita makan bersama dulu sebelum belajar.” Setelah semua murid membuka bekalnya, aroma makanan memenuhi kelas. Tak lama kemudian, pak guru memanggil kami satu per satu untuk maju ke depan agar bekalnya bisa dilihat teman-teman. Saat giliranku, aku maju sambil membawa kotak makan ungu itu. Pak guru bertanya, “Apa bekalmu hari ini?” Aku menjawab, “Saya membawa nasi goreng, kangkung tumis, dan nugget ayam, Pak.”

Setelah semua murid mendapat giliran, kami mulai makan. Sambil makan, pak guru menjelaskan materi tentang zat aditif pada makanan, yaitu bahan tambahan yang digunakan untuk memperbaiki rasa, warna, aroma, atau daya tahan makanan. Contohnya penyedap rasa (monosodium glutamat/MSG) pada nasi goreng untuk membuatnya lebih gurih, saus tomat pada nugget yang mengandung pewarna makanan, serta garam dan gula sebagai pengawet alami. Ada juga zat aditif lain seperti pewarna alami dari sayuran pada kangkung tumis.

Hari itu aku senang karena bisa makan di kelas sambil belajar. Aku juga jadi tahu bahwa zat aditif pada makanan ada yang aman jika digunakan secukupnya, tetapi bisa berbahaya kalau dikonsumsi berlebihan.


Nama: Muhammad Izza Muhyiddin Kelas: 9.3 - Refleksi Tentang Zat Aditif pada Sarapan Pagi

Zat aditif adalah bahan tambahan yang digunakan dalam makanan untuk tujuan tertentu, seperti memberi warna, menambah rasa, atau membuat makanan lebih awet.

Pagi ini, sarapanku terdiri dari nasi, telur goreng, tempe, dan mie goreng. Dari menu sederhana ini, aku mencoba memperhatikan mana yang mengandung zat aditif dan mana yang alami.

Nasi

Nasi putih yang kukonsumsi biasanya tidak mengandung zat aditif, apalagi jika dimasak dari beras murni. Rasanya netral, alami, dan menyehatkan jika dimakan dengan porsi yang tepat.

Telur

Telur goreng juga termasuk makanan alami tanpa zat tambahan, selama dimasak tanpa bumbu instan atau saus kemasan. Rasanya murni dari bahan aslinya.

Tempe

Tempe adalah hasil fermentasi kedelai dengan ragi. Proses pembuatannya alami, tanpa pengawet atau pewarna buatan. Bumbu sederhana seperti bawang dan garam membuatnya tetap sehat dan lezat.

Mie

Berbeda dengan nasi, telur, dan tempe, mie instan biasanya mengandung berbagai zat aditif seperti penyedap rasa (MSG), pengawet, dan pewarna. Inilah yang membuat rasanya gurih dan aromanya khas, tetapi sebaiknya dikonsumsi tidak terlalu sering.

Kesimpulan

Dari sarapan hari ini, aku belajar bahwa tidak semua makanan mengandung zat aditif. Namun, makanan yang terlalu banyak zat tambahan sebaiknya dibatasi. Lebih baik memilih makanan alami yang lebih sehat bagi tubuh


Nama saya Laode Salim Alviki Halis (14)  siswa kelas 9.3. 

Pada hari ini saya membawa sarapan pagi berupa nasi goreng, mie goreng, dan telur mata sapi. Makanan ini saya buat dengan menambahkan beberapa bahan yang mengandung zat aditif.

Zat aditif adalah bahan yang ditambahkan pada makanan atau minuman untuk memperbaiki rasa, warna, aroma, tekstur, atau daya tahan. Zat aditif bisa berasal dari bahan alami seperti garam dan gula, atau buatan seperti MSG, pewarna sintetis, dan pengawet.

Pada nasi goreng yang saya bawa, zat aditif yang digunakan adalah garam (pemberi rasa asin), kecap manis (pemberi rasa manis dan warna), penyedap rasa/MSG (penguat rasa), dan saus sambal (pemberi rasa pedas dan warna).

Pada mie goreng, zat aditifnya antara lain bumbu instan yang mengandung MSG, kecap, saus, serta minyak goreng yang kadang mengandung zat antioksidan.

Sedangkan pada telur mata sapi, zat aditif yang digunakan adalah garam dan minyak goreng.

Cara membuat nasi goreng:

Siapkan nasi putih, bawang merah, bawang putih, telur, garam, kecap manis, dan penyedap rasa. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum, masukkan telur dan orak-arik, lalu tambahkan nasi. Beri garam, kecap manis, dan penyedap rasa secukupnya. Aduk hingga rata dan matang.

Cara membuat mie goreng:

Rebus mie instan hingga setengah matang, tiriskan. Panaskan sedikit minyak, tumis bumbu instan bersama kecap dan saus, lalu masukkan mie. Aduk rata hingga matang dan siap disajikan.

Cara membuat telur mata sapi:

Panaskan minyak di wajan, pecahkan telur perlahan agar kuningnya tidak pecah, taburi sedikit garam, lalu masak hingga putihnya matang. Angkat dan sajikan.

Dari sarapan pagi ini, saya menyadari bahwa hampir semua makanan yang saya konsumsi mengandung zat aditif, baik alami maupun buatan. Zat aditif memang bermanfaat untuk membuat makanan lebih enak dan awet, namun penggunaannya harus sesuai batas aman agar kesehatan tetap terjaga.


NAMA:Yudhavian Atthariz

Hari ini saya ingin menceritakan pengalaman saya membuat bekal untuk dibawa ke sekolah.

Bekal yang saya bawa terdiri dari nasi putih, kangkung tumis, hati ayam tumis, dan udang goreng. Saya akan menjelaskan proses pembuatannya dan juga zat aditif yang mungkin terkandung di dalamnya.

Pertama, saya menyiapkan nasi putih. Nasi dimasak menggunakan beras dan air di rice cooker hingga matang. Kedua, saya membuat kangkung tumis. Kangkung dicuci bersih, lalu ditumis dengan bawang putih dan sedikit garam. Jika menggunakan kecap manis atau saus, biasanya mengandung zat aditif seperti pengawet (untuk memperpanjang daya simpan), pewarna karamel (untuk memberi warna), dan penyedap rasa seperti monosodium glutamat (MSG).

Selanjutnya, saya membuat hati ayam tumis. Hati ayam dibersihkan, kemudian ditumis dengan bumbu bawang merah, bawang putih, dan kecap. Sama seperti pada kangkung tumis, kecap dapat mengandung pewarna, pengawet, dan penyedap rasa. Setelah itu, saya membuat udang goreng. Udang dilumuri tepung bumbu instan, lalu digoreng hingga renyah. Tepung bumbu instan biasanya mengandung zat aditif seperti pengemulsi, pewarna, pengawet, dan penguat rasa.

Bekal ini saya susun di kotak makan: nasi putih di bagian bawah, kangkung tumis di satu sisi, hati ayam tumis di atas nasi, dan udang goreng di sampingnya.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa meskipun bekal yang saya bawa terlihat sederhana dan lezat, beberapa bahan di dalamnya mengandung zat aditif yang berfungsi untuk menjaga rasa, warna, dan daya simpan. Namun, penggunaan zat aditif sebaiknya tetap dibatasi agar makanan yang kita konsumsi lebih sehat.


𐙚 Nama: anawula Almira N.T

𐙚 kelas :9.3

Refleksi Sarapan Pagi

Pagi itu, aku berdiri di dapur sambil memandangi adonan perkedel yang sudah siap digoreng. Kentang yang sudah direbus, dihaluskan, lalu dicampur dengan bawang goreng, garam, sedikit penyedap rasa, dan irisan daun seledri. Aromanya sudah menggoda bahkan sebelum masuk ke penggorengan. Namun, tanganku terhenti sejenak. Aku mulai berpikir tentang apa saja yang ada di dalam adonan itu.

Sebelum Menggoreng

Kentang dan daun seledri jelas bahan alami, tapi aku menyadari ada sedikit penyedap rasa yang kutambahkan agar lebih gurih. Penyedap rasa ini adalah salah satu zat aditif yang sering digunakan. Sebenarnya, rasa alami kentang sudah enak, tapi aku ingin rasanya lebih “menggigit”. Saat menaburkan tepung panir di luar adonan, aku juga sadar kalau tepung panir kemasan biasanya mengandung pewarna dan pengawet supaya tahan lama dan tampil menarik.

Sesudah Makan

Beberapa menit kemudian, perkedel matang dengan warna kuning keemasan. Saat aku menggigitnya, rasa gurih langsung memenuhi mulut. Aku puas, tapi refleksi itu kembali muncul—aku sudah memakan zat aditif dari penyedap rasa dan mungkin dari tepung panirnya. Memang, jumlahnya sedikit, tapi jika terlalu sering dikonsumsi, efeknya bisa kurang baik untuk tubuh.

Aku jadi menyadari bahwa makanan yang kita buat sendiri pun bisa mengandung zat aditif, apalagi jika memakai bahan kemasan. Sejak saat itu, aku ingin mencoba membuat perkedel tanpa penyedap rasa, agar gurihnya murni dari bahan alami. Karena pada akhirnya, makanan yang sederhana dan alami bukan hanya menyehatkan tubuh, tapi juga membuat hati lebih tenang.


NAMA:DELISHA MEYLANI 

Nama saya Delisha Meylani, saya siswi SMP 17 kelas 9.3. Pagi ini, saya berencana membuat menu sarapan sederhana namun lezat: mie goreng dengan telur.

Pertama-tama, saya menyiapkan mie instan dan merebusnya hingga matang. Setelah itu, saya menambahkan bumbu dapur seperti garam, gula, dan kecap agar rasanya lebih nikmat. Supaya lebih bergizi, saya juga mencampurkan potongan bakso dan wortel yang sudah saya iris tipis.

Sambil menunggu mie siap, saya mulai menggoreng telur. Saya pecahkan satu butir telur ke dalam mangkuk, lalu mengocoknya bersama sedikit bumbu Masako agar gurih. Setelah itu, saya memanaskan teflon dan menuangkan telur kocok, membiarkannya matang dengan aroma yang sangat menggugah selera.

Setelah selesai dimasak, mie goreng dan telur ini saya masukkan ke dalam wadah sebagai bekal. Bekal ini saya bawa ke sekolah untuk makan sarapan pagi di sana. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa meskipun bekal ini sederhana, beberapa bahan di dalamnya mengandung zat aditif yang berfungsi untuk memberikan rasa, pewarna, dan pengawet.


Nama: MUHAMAD JAHERIN SAMFAYON

Kelas: 9.3

Refleksi Tentang Zat Aditif pada Sarapan Pagi

Zat aditif adalah bahan tambahan yang digunakan dalam makanan untuk berbagai tujuan, seperti mempercantik tampilan, memperkuat rasa, atau memperpanjang masa simpan. Tidak semua zat aditif berbahaya, namun penggunaannya yang berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Pagi ini, sarapanku terdiri dari nasi, telur goreng, sayur kangkung tumis, dan lombok. Dari menu ini, aku mencoba mengamati mana yang mengandung zat aditif dan mana yang masih tergolong alami.

Nasi

Nasi putih biasanya tidak mengandung zat aditif jika dimasak dari beras murni dan tanpa campuran tambahan. Makanan pokok ini termasuk sumber energi yang alami dan aman jika dimasak dengan cara yang sehat.

Telur

Telur goreng merupakan makanan alami. Selama tidak menggunakan bumbu instan atau saus tambahan, telur goreng tergolong aman dan bebas dari zat aditif buatan. Rasanya pun tetap lezat meski dimasak sederhana.

Sayur Kangkung Tumis

Sayur kangkung yang ditumis dengan bawang dan garam merupakan makanan sehat dan alami. Jika tidak menggunakan penyedap rasa buatan atau bumbu instan, makanan ini bebas dari zat aditif dan baik untuk tubuh.

Lombok (Cabai)

Lombok atau cabai segar adalah bahan alami yang kaya vitamin, terutama vitamin C. Selama masih dalam bentuk segar dan tidak diawetkan atau diproses berlebihan, lombok tidak mengandung zat aditif.

Kesimpulan

Dari sarapan hari ini, aku menyadari bahwa makanan alami lebih baik dikonsumsi setiap hari. Makanan tanpa zat aditif cenderung lebih sehat dan aman bagi tubuh. Oleh karena itu, penting untuk lebih selektif dalam memilih bahan makanan agar kesehatan tetap terjaga.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Video Pilihan Buatan Siswa - Bioteknologi Konvensional

 

Aura Cahyani Putri - Pembuatan Tape

Viola - Donat Ragam Warna


Selviana - Donat Gula


Inayah - Donat Messeseres


Revan - Donat Gula

Muh. Fajar - Donat Messeseres


Rahmat Maulana - Donat Meses



Paling di Sukai

CARA PRAKTIK ENERGI (EK,EP DAN EM) - "Energi yang Tak Terlihat: Eksperimen Kelereng Penabrak Botol!"

  "Pernahkah kalian bertanya, mengapa sebuah bola yang diam di ketinggian bisa meluncur dengan kekuatan yang begitu besar? Halo, saya S...