Dokumentasi : Suhardin (Guru SMPN 17 Kendari - Sulawesi Tenggara)
Apakah
ada hubungannya mesin dan sandal? Ini kisah yang memilukan hati tentang kedua
barang tersebut. Rupanya memiliki kaitan yang sangat erat. Cerita ini dimulai
saat Mertuaku memiliki masalah di sore itu.
“Nak,
tolong lihatkan mesin air.” Kata Oma di depan pintu samping.
“Memangnya
kenapa mesinya, Oma?” Kataku.
“Tidak
tau nak. Jika di cuk, bunyi. Namun air tidak keluar dari kran.”
Sifat
sok pintarku muncul lagi. Aku pun bergegas menuju mesin pompa air yang berada
di samping rumah mertuaku. Mengamati kabel
dan melihat mengecek setiap bagian mesin. Namun tidak satupun alibi yang
mengarah pada kerusakannya. Setelah beberapa kali dicoba namun selalu gagal.
Itu pertanda waktunya untuk mengatakan menyerah.
“Mesin
ini sudah rusak, Oma. Diganti saja.”
“Tapi
mesinnya belum lama dibeli. Kok bisa rusak?”
“Iyalah
Oma. Bisa saja.”
“Tunggu
dulu, coba hubungi adik iparmu. Dia sangat paham dengan ini.”
“Oh
iya, Oma.”
Akupun
mengambil telepon genggam dan mengutarakan masalahnya. Beberapa saat kemudian,
dia pun datang dengan peralatannya. Boleh dibilang ahli mesin karena kuliahnya
dijurusan tehnik.
“Wah,
ini mesinnya kotor. Semutlah penyebabnya.” Katanya.
“Kok
bisa?” Kataku.
“Coba
lihat! Tanah sarang semut ini hingga masuk dalam kipasnya.”
“Jadi
solusinya bagaimana?”
“Angkat
dari tempatnya dan bongkar.”
Membuka
dari tempatnya bukan tanpa masalah. Butuh sambungan pipa yang beragam. Setelah menghitungnya, aku pun
bergegas menarik motor bututku. Waktu yang menjelang sore menyebabkan semua
berpacu dengan waktu. Bukan hanya persoalan hampir gelap, waktu tutup toko
bangunan sudah makin dekat.
Bukan
hanya satu toko yang dikunjungi. Sambungan pipa ke mesin menjadi kendala. Barang
itu bukan hal biasa yang aku lihat. Bertanya dan memperlihatkan contohnya
adalah jalan terbaik untuk menghemat waktu. Gelisah dan panik menjadi gambaran
hati pada saat itu. Terlambat berarti air tidak akan mengalir.
Jalan
makin cepat dalam toko. Kadang kala hampir saja menabrak orang lain yang sedang
berbelanja. Setelah ke kasir akupun bisa memabawa pulang barang yang
dibutuhkan. Namun aku merasa kaget bukan kepalang. Perkataan istriku membuatku
tersadar. Ada hal yang tidak wajar pada diriku.
“Waduh,
siapa yang pakai sandal yang berbeda warna?” Katanya.
Akupun
langsung melihat kearah bawah.
“Astagfirullah.”
Teriakku.
“Kenapa?”
Kata Istriku.
“Pantas
saja banyak orang yang melihatku lalu tersenyum tadi.”
“Yang
melihatmu, lelaki atau perempuan?”
“Kedua-duanya.
Tapi yang banyak para ibu-ibu.”
“Mungkin
saja kamu yang genit.”
“Waduh,
bukan itu Yang.”
“Lantas?”
“Sendalku
ini masalahnya.”
“Hi,
bapak ini. Bagaiman sih. Bikin malu.”
“Baju
kotor, sandal pagi sore, rambut acak-acakan serta bau badan yang menyengat.
Wah, lengkap sudah kesimpulan mereka. Semoga prasangkanya terbantahkan dengan
balasan senyumanku”
“Maksudnya?”
“Semoga
mereka tidak mengatakan aku gila.”
“Apa
ada orang gila yang mampu berbicara sopan pada pelayan toko, memabaca label
barang dengan baik, membalas senyuman orang dan bisa menghitung uang di depan
kasir?”
“Pantas
saja pelayannya, menyuruhku diam ditempat.”
“Lalu?”
“Dia
terburu-buru mencari barang yang saya butuhkan, mengantar ke kasir dan memunggu
hingga aku keluar toko.”
“Jangan
terlalu curiga dengan kebaikan orang.”
“Oh,
tidak.”
“Sudalah,
mandi lalu sembayang.”
Sungguh
pelajaran yang berharga. Kerja yang tergesa-gesa dan tidak memperhatikan
penampilan memang ada hal tidak baiknya.
Setiap orang membutuhkan motovasi dalam bekerja maupun berkarya. Hal ini sangat penting dalam proses maupun out put kegiatan yang dilakukan. Mendorong keinginan untuk membuat sesuatu yang baik menjadi alasan dalam memacu semangat berusaha.
Rivai (2005 : 455) mengungkapkan bahwa motovasi merupakan hal yang mepengaruhi seseorang untuk mencapai susuatu yang khusus sebagaimana arah pemikirannya. Pencapaian tujuan individu ini menckup sikap maupaun nilai-nilai yang ingin dicapai. Searah dengan hal tersebut, Panji (2014 : 34) mengutarakan definisi umum motivasi merupakan suatu hal yang mendorong seseorang sebagai kebutuhan untuk melakukan perbuatan kearah tujuan yang telah ditentukan.
Motivasi ini memiliki peran penting dalam karier seseorang. Arah datangnya pun bisa beragam. Lingkungan memiliki peran yang besar. Dorongan semangat dari atasan, teman sejawat bahkan keluarga dapat menjadi motivasi dalam berusaha. Kondisi terbaik dalam bekerja dapat muncul dari suasan dan hubungan kerja. Hal tersebut dapat meningkatkan loyalitas, partisipasi aktif serta menimbulkan ide dalam berkreativitas. Tetapi banyak hal yang bisa mempengaruhi motovasi seseorang.
Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi kerja, diantaranya harus ada perlakuan yang adil dalam lembaga kerja, susana lingkungan kerja yang menyenagkan, penghargaan atas prestasi, rasa aman untuk melakukan kerja dan pemberian gaji yang adil serta kompetitif (Rivai, 2005 : 460).
Ketika pengaruh buruk menimpa maka motivasi pun akan mengendur. Apalagi hal yang sama selalu berulang. Begitulah yang dialami Roki. Prestasinya kurang dihargai dalam lingkungan kerjanya. Keinginannya berbagi penglaman selalu terhambat. Perasaan was-was pun selalu menghantui jiwanya saat ingin berkarya. Banyak tekanan yang dirasakannya. Namun dia tidak berpangku tangan lalu larut dalam situasi yang tidak baik itu.
Ketika forum tidak bisa dijangkau, Roki pun memilih interaksi pribadi dalam membagi hal positif. Jika repon kawannya baik, komunikasi menjadi lebih berwarna. Menebar pesona diluar lembaga menjadi pilihan kedua. Hal ini memiliki alasan tentunya. Permintaannya dalam lingkungan kerja hanya memberi sedikit ruang. Beberap komunitas akhirnya menjadi muaranya berdiskusi. Kini keluarga, komunitas, tetangga dan kawan jauh menjadi sumber motivasinya.
Upaya itu bukan tanpa masalah. Usulan dan pemikiran positif dalam lembaganya mulai diabaikan. Jika orang lain bersuara dengan nada yang sama akan berbalik tanggap. Walaupun ungkapannya dalam forum resmi namun presepsi nada “menantang” mulai terdengar. Semua terhembus dengan cepat hingga meluluhkan hati. Jangan ditanya ancaman mutasi, itu hal yang sering menggema. Rencana pemutusan tambahan penghasilan pun mulai ditasakannya. Padahal Roki selalu menyisihkan sebagian dana itu sebagian untuk membiayai kegiatan amalnya dalam berbagi. Diantanranya untuk kepentingan lembaga kerjanya. Apakah hasil karya mendapatkan apresiasi? Tentu tantangannya sangat besar. Permintaannya untuk menjadi bahan koleksi dan dokumentasi saja terabaikan.
Memang sayang beribu sayang. Membaca curriculum vitaenya membuat bulu kudukku merinding. Karyawan ini telah banyak mengantongi penghargaan nasional dan internasional. Tetapi dia tetap dipandang sebelah mata. Namun karyawan berprestasi itu tetap menganggap dirinya biasa-biasa saja. Roki tetap berbesar hati, walaupun karyanya dianggap sederhana namun telah terbang ke empat penjuru mata angin. Keistimewaan itulah yang tetap menjaga semangatnya. Jika tanah yang dipijak berlumpur dan licin, selalu ada jalan datar yang aman untuk dilalui. Begitulah dia beranggapan ketika duduk bercakap di taman kota.
Ungkapan yang tidak wajar selalu didengarnya. Namun dia tetap menjadikan cambuk semangatnya. Jika berbicara lantang untuk kebaikan telah ditentang. Memberi contoh bekerja dan berkaya telah dilakukan. Diam mejadi pilihan untuk bertindak. “Saya sadar. Diri bukan manusia super ataupun malaikat. Banyak hilaf dan kelemahan yang dimiliki. Jadi kebenaran itu selalu datangnya dari Yang Kuasa.” Ungkapnya.
Rapat atau pertemuan menjadi tontonan saja saat ini. Roki hanya pendengar terbaik, ketika usul program kerja yang telah dirancangnya menjadi sandungan. Beberapa pekerjaan berat yang pernah dilakukan, kini ditolaknya. Kini fokusnya hanya ingin mengemban amanah sesuai tupoksi beban kerjanya. Hasilnya, jabatannya pun terlepas tanpa sebab dan alasan. Sebuah surat keputusan pemberhentiannya menjadikannya karyawan biasa dalam lembaga itu. Senior, berprestasi dan jasa tidak berlaku lagi buatnya.
Bukan berarti menjadi karyawan biasa lalu berhenti berinovasi. Diam tetapi selalu berusaha membuat hal baru untuk dipakai. Bahkan lembaga lain ikut menikmatinya. Begitulah kisah Roki yang membuatku terinspirasi. Sabar dan tetap berkaya adalah intinya. Roki hanya mengharapkan keberkahan dalam hidupnya. Namun ketika aku bertanya tentang sabar dan tawakal, dia hanya tersenyum.
“Roki,
kenapa kamu hanya tersenyum?” Tanyaku.
“Kawan,
aku hanya manusia biasa yang tidak bisa meramal masa depan. Hanya bisa
berharap, hal lebih baik akan didapat dengan keberkahan. Tetap berniat yang
baik, kerjakan yang bermanfaat lalu berdoa. Semoga Yang Kuasa memberimu berkah
yang melimpah.” Jawabnya.
“Wah,
kamu tidak pernah merasakan sakit hati ya?”
“Bukan
manusia jika tidak berasakan itu.”
“Tapi…”
“Saya
pernah mengalaminya, hingga air mata pun tidak mampu lagi menetes.”
“Sabar
sekali kamu?”
“Saya tidak bisa mengukurnya. Sabar itu bahasa hati. Jadi jangan tanya lagi hal itu.”
Aku pun menutup perbincangan dengan kelakar dan bertukar pengalaman lain. Sungguh hari ini aku mendapatkan pelajaran yang berarti dari seorang kawan. Diam tidak berarti fakum. Jika lisan dan contoh telah berlalu, maka diam dan selalu berusaha memperbaiki diri menjadi pilihan. Begitulah kesimpulan yang dipetik dari Roki. Sosok yang belajar tak banyak bicara namun pemikirannya selalu beride positif serta bukti aktivitasnya adalah sinyal seseorang yang tidak ingin menyerah dengan keadaan.